Mengenal Filosofi Tiongkok dari Tugas Perancangan

18 12 2008

Salah satu pencarian identitas budaya oleh diri penulis..


Melalui Sebuah Pusat Budaya Tionghoa

Tahun lalu, Agustus 2007, saya mengusulkan judul “Pusat Budaya Tionghoa di Bandung” untuk tugas Perancangan Arsitektur saya, dengan tema analogi. Awalnya saya tertarik untuk menggunakan analogi penulisan huruf Mandarin untuk menjadi bentuk arsitektur saya. Sebelumnya saya telah membaca Chinese Calligraphy Illustration as Space Form Inspiration ᴵᴺᴵ ᴬᴰᴬ ᴵᴷᴸᴬᴺ⁾ karya Chang Jing-Ji dan Chang Teng-Wen dari National Yunlin University of Science and Technology, Taiwan. Menarik sekali, menggunakan program komputer untuk mensimulasikan bentuk dan ruang yang didapat dari goresan-goresan kuas huruf Mandarin. Tetapi ternyata cukup sulit untuk membayangkannya, berhubungan dengan komputasi dan matematika. Mungkin bila ada kesempatan untuk S2, saya akan mencoba untuk menelitinya lebih lagi.

Saya mencari-cari apa huruf yang dapat merepresentasikan budaya Tionghoa. Saya mengusulkan:
龙 (F 龍) [lóng] naga, simbol dari kebanggaan, dinasti.
汉 (F 漢) [hàn] Han, bangsa Han, suku mayoritas di Tiongkok.
华 (F 華) [huá] Hua, “bangsa Tiongkok”, Tionghoa.
中 [zhōng] tengah/pusat, zhong adalah tiong dalam Tiongkok.

Setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing saya, Wiwik Dwi Pratiwi, dipilih huruf 中. Sebenarnya saya lebih menyukai kalau bentuk huruf yang diambil adalah 华 atau 龙, akan tetapi karena bentuknya yang cukup rumit, kesan spasialnya pasti sulit untuk dicapai, sedangkan lahan perancangan terlalu sempit. 中 dipilih, karena sederhana, dan juga karena tapak perancangan terletak di tengah suatu blok kawasan. Secara tidak sadar, saya menemukan bahwa ternyata saya tidak salah memilih huruf ini, karena huruf ini sangat mewakili Tiongkok, dan juga filsafatnya. Tepatnya pada 中庸 [zhōngyōng] yang berarti ①golden mean (dari Konfusianisme); ②Doctrine of the Mean. 中庸 ini merupakan salah satu buku yang diacu oleh Kongzi.

Untuk perancangan tampilannya, rencananya saya ingin membuat sesuatu yang baru, tidak nampat tradisional, tetapi bernafaskan tradisi budaya Tionghoa. Dalam studi saya mendapatkan hal-hal yang memberi pengaruh terhadap Budaya Tionghoa, antara lain ajaran Kongzi, Dao, dan Chan (Zen). Lalu pemikiran-pemikiran tersebut saya terapkan dalam bentuk bangunan, dan ornamennya juga.

Hasil rancangannya cukup baik. Saya cukup puas (walau belum..). Nilai akhir rancangannya A, akan tetapi karena kehadiran saya kurang dari 80% di kelas, nilainya turun menjadi B. Sayang sekali. Setelah saya lebih santai, akan saya coba perlihatkan di sini hasil perancangannya.

Melalui Sebuah Fasilitas Olahraga dan Beladiri Tiongkok (Wushu) Bagian 1

Sekarang ini, (Agustus 2008), saya mengambil Tugas Akhir Perancangan Arsitektur. Saya mencoba lagi mengusulkan kasus yang berhubungan dengan budaya Tionghoa, tetapi lebih spesifik lagi, yaitu Fasilitas untuk Wushu. Saat seminar, saya mengalami kesulitan untuk mencari data dan meyakinkan dosen saya. Akhirnya karena kurang gigih dan mental yang melempem, saya tidak lulus. Akan tetapi kasus tersebut diloloskan di Tugas Akhir, sehingga saya dapat melanjutkan. Dosen pembimbing saya juga adalah seorang praktisi beladiri dan mantan atlit atletik (lempar martil), Boedi Dharmasidi. Hal ini merupakan suatu keberuntungan buat saya. Dasar beladiri beliau yang berasal dari Jepang, pada awalnya cukup memberi suatu perbedaan pandangan, akan tetapi hal ini tidak begitu masalah sampai sekarang, karena filosofi beladiri Jepang pun merupakan turunan dari filosofi Tiongkok.

Di kasus ini saya ingin mencoba untuk menerjemahkan filosofi dalam beladiri Tiongkok ke dalam bahasa Arsitektur. Lagi-lagi karena kemalasan saya, segala pemikiran dan konsep menjadi tidak matang. Awalnya saya berpikir, pasti ada suatu filosofi berbeda yang dikandung dalam beladiri Tiongkok, tetapi akhirnya balik lagi ke filosofi Tiongkok, Kongzi, Dao, Chan, Yinyang, dan sebagainya. Saya berpikir, “Kok lagi-lagi kembali ke filosofi-filosofi ini?” Di sinilah saya baru benar-benar tersadar, bahwa filosofi suatu bangsa akan direfleksikan ke dalam segala aspek budayanya. Terlebih budaya Tionghoa yang sudah dimulai kurang lebih 3000 tahun yang lalu, filosofi tersebut berkembang dan mengkristal pada semua aspek budaya Tionghoa. Di sini juga saya mengenal kata 中庸, mengenal kembali nilai-nilai tradisi Budaya Tionghoa (yang saya temukan banyak terdapat di dalam beladiri Tionghoa).

Di sini pulalah saya sadar, saya masih jauh dari nilai-nilai tersebut. Bukan hanya jauh, tetapi menyalahi aturan. Wah betapa saya sangat malu dan sedikit putus asa. Hal-hal ini sulit diubah, sampai akhirnya saya terjebak dalam pemikiran bodoh yang saya ciptakan sendiri.. Akhirnya perancangan yang cukup lama saya diamkan karena pemikiran-pemikiran negatif yang sebenarnya tidak perlu, gagal.

Dalam proses ini, saya telah melakukan perubahan desain menyeluruh sebanyak 4 kali! Sayangnya kekurangmatangan dan ketidakteguhan menyebabkan hati yang lemah..

Melalui Sebuah Fasilitas Olahraga dan Beladiri Tiongkok (Wushu) Bagian 2

Teman-teman, doakan saya bangkit dan berusaha memahami filosofi dan budaya, terutama saat ini untuk merampungkan Tugas Akhir ini.

Nanti hasil perancangan tugas ini akan saya bagi di sini dengan teman-teman pembaca. Semoga saya termotivasi lebih lagi. Sampai nanti.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: