What is “Minority”? (Quoting “Therapy”)

17 03 2009

Minoritas.. Dulu saya pernah membaca, “mayoritas yang baik dapat bertoleransi, dan minoritas yang berani dapat memperjuangkan dirinya.” Cukup memberi muka terhadap sang mayoritas, dan memberi semangat kepada minoritas, walaupun tetap masih ada kesan konflik.

Tetapi, artikel di bawah ini membahas lebih jauh eksistensi sebuah kata minoritas. Dan hubungannya dengan ke”minoritas”an Tionghoa pada khususnya di Indonesia. Menarik untuk dibaca. Saya juga masih mau membaca ulang lagi, karena belum begitu paham.. he he he..

Therapy (oleh Mr Yap Thiam Hien, Star Weekly 21 Mei 1960) Suatu penjakit tidak mungkin di “behandeld” setepat-tepatnja bilamana masih belumditemukan lebih dahulu sebab musababnja jang sebenarnja. Kelalaian untuk menjelidiki dan menemukan sebab-musababnja jang sebenernja dari minoritet dan masalahnja menurut pendapat kami adalah salah satu sebabnja therapy komunis dan therapy 10 tokoh menjadi tidak tepat pula.
Maka sebelum menjumbangken therapy kami sebagai salah satu tjara pemetjahan masalah minoritet jang gawat itu, kami akan berikhtiar menentukan lebih dahulu diagnose kami terhadap minoritet dan masalahnja.
Apakah gerangan minoritet itu dan apakah gerangan masalahnja?

Minoritet.
Louis Wirth dalam sebuah artikelnja yang berdjudul “The problem of
Minority Groups” (L. Wirth: “The problem of Minority Groups”, dalem The Science of Man in world crises”, hal. 347.) memberi definisi sebagai berikut (terdjemahan dan penomoran dari penulis):
1. Minoritet ialah segolongan orang, yang
2. Karena ciri-ciri badan atau kulturilnja
3. Dipisahkan dari pada orang-orang lain dalam masyarakat di mana mereka hidup,
4. Untuk diberikan perlakuan yang berbeda dan tidak sama,
5. Sehingga karena itu mereka menganggap dirinja sebagai bulan-bulanan dari diskriminasi kolektif,
6. Dalam masjarakat di mana ada minoritet disana pasti ada “dominant group” jang sehubungan jang mempunjai kedudukan sosial tinggian serta hak-hak istimewa.
7. Tergolongken dalem minoritet dengen sendirinja berarti tidak akan diikut sertaken sepenuhnja pada kehidupan masjarakat.

Ditambah dengen rumusan Sub Commision dari Commision Human Rights dari PBB yang menegaskan bahwa istilah minoritet itu biasanja digunaken terhadap warga dari suatu negara, maka dapatlah diringkaskan bahwa minoritet ialah segolongan warga dari suatu negara (1) yang dipisahkan, diexclusifken dan didiskriminasiken (3, 4, 7) oleh sesama warganegaranja jang mempunjai hak-hak istimewa dan kedudukan sosial, politik, ekonomis lebih tinggi (6), sehingga dalem diri golongan itu dibangkitken sekelompokan perasaan-perasaan tertentu (5) mereka diperlakuken demikian karena mereka berbeda dalem fisik atau kebudajaan dengen warganegara yang lain (2).
Perasaan-perasaan itu antaranja perasaan diperlakuken tidak adil, tidak dihargai, tidak dipertjaja, diisolir dan dianiaja, pendek kata perasaan-perasaan yang dikandung oleh seorang anak tiri. Wirth berkata: One cannot long discriminate againts a people without generating in them a sense of isolation or persecution and without giving them a conception of themselves as being more different from others than in fact there are (L. Wirth ibid. hal. 348).

Perasaan-perasaan di anak tirikan mendjadi latar belakang dari sekelompok sikap (attitudes) dan tindak-tanduk (behaviour) yang berupa-rupa dan jang tidak djarang bertentangan satu dengen jang lain, misalnja sikap tunduk, melawan, plintat plintut, mendekat, mendjauh dan sebagenja, pendeknja sikap dan tindak tanduk seorang anak tiri.

Perasaan dan sikap serta sepak terdjang itu kami namaken minority-complex. Dan oleh karena complex ini mendjadi masalah bagi minoriet sendiri. maka dapatlah kami menamaken masalah minoritet “in engere zin” Status minoritet mebawa complex minoritet. Maka kalau kita bitjara tentang minoritet baeklah kita tidak lupaken kedua pihak dari masalah itu.

Ada rupa-rupa minoritet, misalnja minoritet bahasa, agama, ethnic, racial. Tetapi semuanja mempunjai status dan complex seperti tersebut di atas. golongan-golongan Hindu-Bali, Kristen di Indonesia djumlah lebih kecil dari djumlah golongan Islam. Tetapi golongan-golongan itu baru menjadi minoritet (agama) kalau sudah dipisahkan, diexclusifken dan didiskriminasikan oleh suatu dominant group. Sekarang mereka bukan. Djadi bukan djumlah, melainkan perlakuan jang menentukan status minoritet. suatu djumlah besar bisa mempunjai status minoritet seperti halnja dengan rakjat Indonesia di zaman kolonial, di mana sedjumlah ketjil orang orang Belanda mempunjai kedudukan “dominant group”.

Dominant group
Dominant group ialah golongan laennja yang mempunjai hak-hak jang istimewa dan “sosial status” yang lebih tinggi, lebih kuat, lebih berkuasa, mutatis mutandis dapatlah kiranja digunakan juga kata-kata Wirth tersebut di atas terhadap dominant group: “One cannot long discriminate against a people without generating in oneself a sense of -guilt and at the same time create in oneself a conception of oneself as being God”.

Maka dapatlah dikatakan bahwa djuga status dominant group membawa dominant group complex yang dapat dityper Sebagai sikap main hakim-algodjo sendiri sikap tidak punja salah, sikap tidak mau mundur, tida mau minggir dan tida mau antree. Pergumulan antara perasaan salah dan mendjadi Allah merupakan pokok dari dominant group-complex itu jang tertjermin dalam sikap-tanduknja pula.

Sebagai sama warganegara tidak bisa tidak kedua golongan itu mempunjai hubungan satu dengan jang lain. Dan mereka saling pengaruh-mempengaruhi. Dominant group mengexclusifken, minoritet mengisolirkan diri. Dominant group mendiskriminir. Minoritet mendjadi solidair. Perbuatan-perbuatan diskrirninasi dan exclusion membangkitkan proses atau perlawanan dalam rupa-rupa tjara dan bentuk jang kadang-kadang tidak dikenali lagi sebagai proses atau perlawanan, misalnja lari, ganti nama, menjelundup masuk ke dalam dominant group karena perobahan physik (passing the colour baar). Reaksi minoritet dibalas dengan contra aksi dan sebagenja dan seterusnja. sehingga bisa sampai kepada titik jang, exploit seperti di USA baru-baru ini (red: peristiwa rasial di Alabama di USA taon 1960.)

Masalah Minoritet
Status dan complex minoritet dalam inter-relasi dan inter-influensi dengan dominant group dengan status dan complexnja inilah menurut paham kami masalah minoritet dalam arti jang sebenarnja.
Karena itu tidaklah mungkin didapatkan pemetjahan masalahnja dengan sebaik-baiknja kalau hanja ditindjau dari satu sudut sadja, dan ditjari koreksinja di satu pihak saja.

Bikinan siapa?
Kami tidak usah ragu-ragu untuk menjatakan siapalah yang sudah membikin golongan warganegara mendjadi satu minorities. Tidak lain dominant group jang karena kedudukannja mempunjai kesempatan dan kuasa untuk itu.

Istilah “dominant group” tidaklah dipilih secara serampangan oleh kaum sosiolog

Maka kalau sdr. Drs. Lauwchuantho menjatakan bahwa kami memutar balik “oorzaak en gevolg” kiranja itu disebabkan karema “ignornce” atau rasa kuatir atau dua-duanja dari sdr. Lauwchuantho. Tetapi itu memanglah facts, yang ditemukan dalam field-work sarjana-sarjana dan yang kemudian dirumuskan didalam definisi seperti dari Louis Wirth tersebut di atas.

Diulangken: Minoritet adalah kreasi dari dominant group. Djuga di Indonesia. Mula-mula kaum kolonial sebagai dominant group memisahken “Nederlandse Onderdanen Vreernde Oosterlingen Chinezen” dari “Nedetlandse Onderdanen” lainnja, dan mengexclusifken mereka dari pertanian, kepegawaian, sekolahan, social verkeer “, serta mendiskriminasikan mereka dengan “passen en woonwijken stelsel “, Vreemdelingenverbod dan lain-lain peraturan. memang periode itu djuga rakjat Indonesia didjadikan minoritet. Sekarang djaman djajahan sudah lewat dan Indonesia sudah merdeka dan berdaulat. Kita mengharapkan dan merindukan bahwa dengan Kemerdekaan dan Kedaulatan itu juga semua status minoritet dihapuskan. Tetapi hampir semua peraturan kolonial yang diskriminatoris tetap masih ada. Malahan lahirlah Assaat-isme dan Kensi-isme jang secara paradoxal mengakibatkan system Ali Baba. “Passenstelsel” dihidupkan kembali di bawah nama-nama STKI, tanda bukti kewarganegaraan. Diskriminasi di lapangan pendidikan, perekonomian dan kepegawaian masih ada, demikian Sdr. A. Soemandar, secara terus terang mengataken Dominant group telah berganti orang, tetapi statusnja dan complex-nja tetap sama.

Dan minoritet Tionghoa djuga tetap dan akan selalu ada!!!!.

Memang benar ada Menteri-menteri yang tidak menjetujui minoritet¬minoritetan. Djuga benar bahwa di hari-hari paling belakang ini didengung-dengungken sendi-sendi demokrasi. Akan tetapi masalah minoritet tidak dapat dipetjahkan dengan kata-kata sadja. John Dollard (J Dollard “The acquiition of new social habits” hal 459 dalem “The science of man in world crisis”) berkata: “No individuals can be expected to change his attitude toward an ethnic group unless at the same time the group to which be belongs and is resposible simultaneously changes its attitude He would be promptly isolated

Apakah bukan kekuatiran “isolation” itu yang mendjadi sebab kata-kata tidak disertakan dengan perbuatan?

Bentuk, tjara, gradasi, kwantum, kwalitet atau motif dari diskriminasi bukan soal, pula tidak mengurangi “het felt van diskriminasi. Selain dari pada itu membenarken diskriminasi juga satu “prejudice” menurut Arnold Rose: “We use the term prejudice to refer to a set of attitudes which causes support or justifies discrimination” (The Roots of Prejudice”, Unesco).

Sub-Commision (ibid) mengakhiri memorandumnja dengan satu alinea jang dibuka dengan kata-kata: “The claim of any minority to application of the principle of non-discrimination cannot be questioned since this principle is proclaimed unequivocally in the Charter of the United Nations and the Universal Declaration of Human rights”.

Perbedaan-perbedaan
Perbedaan-perbedaan physis atau kulturil adalah sebabnja golongan warganegara diminoritetkan.

Amerika Serikat meminoritetkan golongan Negro karena mereka berkulit hitam. Diskriminasi itu mengakibatkan antagonisme dan terakhir “non-violence-action” dari pihak Negro Amerika. Orang-orang Negro, India dan lain-lain oleh dominant group di Uni Afrika Selatan diapartetkan, didiskriminir dan dianiaya. Perasaan anti-racism di sana baru-baru ini mengakibatkan beberapa ratus orang orang Negro dan Kulit Putih ditahan dan dibunuh, sedangkan pemimpin dominant Group, Verwoerd nyaris terbunuh.

Diskriminasi berdasarkan pysik dinamakan diskriminasi racial, atau racism.

Hitler dan kaum Nazinja menglikwidir djutaan orang Djahudi karena mereka “anders” dalam hal agama, kebudajaan dan bentuk badannja.

Stalin cs. menglikwidir entah berapa banyak warganegara Rusia karena mereka “anders” dalem hal ideologi mereka. Ini adalah diskriminasi kulturil dalem arti jang luas. Dan semua dominant group tersebut mempunjai masing-masing “rechtvaardigingsgronden” mereka sendiri, tetapi “justification” mereka itu djustru menjatakan “prejudice” mereka (A. Rose ibid).

Maka tidaklah mengherankan sedikitpun kalau 10 tokoh dan kawan-kawan melihat perbedaan-perbedaan itu sebagai sumber explosi, “een kruitvat ” dan selaku penghalang bagi proses ″Nationbuilding”, jang karenanja harus dilenjapkan.

Tepatkah tafsirannja?

Pasti tidak. Kita ambil beberapa tjontoh saja:
1. Zwitserland dengan suku-suku bangas Perancis, Djerman dan Italia masing-¬masing dengan kebudajaan dan bahasa (resmi) mereka sendiri jang merupakan suatu bangsa jang bulat dan harmonis. Bahkan begitu rupa sehingga dalam dua perang dunia di mana ketiga negara tersebut terlibat dalam satu konflik mati¬-matian bangsa Swiss keturunan Perancis, Djerman dan Italia tetap satu-padu dan bisa tinggal netral.
2. Hawaii yang telah berhasil juga membina suatu persekutuan yang harmonis dari pada suku-suku bangsa Peribumi, Djepang, Tionghoa, Filipino dan kulit putih, tanpa juga melenyapkan perbedaan-perbedaan mereka masing-masing.
3. Dan “honour to whom honour is due”, Tiongkok dan Rusia yang dengan suatu sistim yang terbaik menurut Wirth telah berhasil meng-ko-existensikan dan mempersatukan semua golongan-golongan ethnis mereka.

Perbedaan-perbedaan dalam hal keturunan atau kultur bukan dan tidak usah mendjadi penghalang bagi proses nationbuilding. Maka djuga Indonesia dapat membina semua suku-suku dan golongan-golongan racialnja menjadi satu bangsa.

Indonesia jang bulat dan satu padu dengan mewudjutkan lambang Bhinneka Tunggal Ika. Ini keyakinan kita.

Djadi selaen dalilnja tida tepat, djoega “noodzakelijkhied” dari andjoeran ke 10 tokoh itu tidak njata.

Mengenai minoritet Tionghoa ke 10 tokoh tidak raga-ragu mengemukakan therapynja: minoritet sebaiknja meleburkan diri dalam “dominant group’ guna “escape” dari status minoritet dan demi pelantjaran proses nation-building “Dominant group” menjadi “recipient” penerimanja.

Tetapi bagaimana dengan suku-bangsa lainnja? Siapa di antara mereka harus diambil sebagai “recipient” Apakah ukuran mendjadi “culture recipient?” Djumlah anggota sukukah? Atau “baik”, kurang baik”, “Djeleknja” dari suatu kebudajaan dibandingkan dengan jang, lain? Kalau begitu siapakah jang kompeten mendjadi hakimnja?

Apakah sebenarnja dalam andjuran 10 tokoh itu secara “onbewust” sudah tidak terselip element mengadili?

Kata Claude Levi-Strauss: “……the more we claim to discriminate between Culture and customs as good and bad the more completely do we identifi, ourselves with those we would condemn. By refusing to consider as human those who seen to us to be the most -savage” or “barbarous” of their representatives, we merely adopt one of their own characteristic attitudes- The barbarian is. first and foremost the man who believes in barbarism “. (Race abd History”, Unesco).

Rasanya tidak lajak, kami jang tidak kompeten tjoba menjawab pertanjaan Levi-Strauss: (“What are we to the understand by -different Cultures”‘), tetapi adalah sangat bermanfaat sekali kalau kita bersama-sama merenungkan saja kata-katanja: “We have sought, oil the contrary, to show that the true contribution of a culture consist, not in the list of inventions which it has personaly produces, but in its difference from others. The sense of gratitude and respect which each single member of a given culture can and should feel towards all others can only be based on the conviction that the other cultures der from his own in countless ways, even if the ultimate essence of these differences eludes him or if, in spite of his best efforts, be can reach no more than an imperfect understanding of them” (ibid).

Meskipun kami sangat menghargai dan menghorniati maksud dan tujuan (satu bangsa yang homogen) dari 10 tokoh serta segenap penundjang dan penudjunja, namun dan djusteru demi tjita-tjita yang sama kami tidak boleh tidak mesti mensinyalir kekurangan dan kelemahan therapy mereka itu. Penghapusan perbedaan-perbedaan physis dan/atau kulturil berarti nivellering, penjama-rataan. Bentuk badan, rupa muka, warna kulit dan sebagainja jang berbeda-beda hendak disama-ratakan, sehingga tidak nampak lagi perbedaan-perbedaan. Anjuran ini mengingatken kita pada Aldous Huxley’s “The Brave New World” di mana pemimpin-pemimpin dunia baru itu mentjiptakan dengan technologi mereka sejenis manusia menurut satu model sadja, tanpa perbedaan sedikitpun melainkan dalam hal kemampuan melakukan pekerdjaan rendah, menengah dan atas. Mereka ditjiptaken tampa gaja-pikir. Mereka adalah “The Uniform Citizens of the Brave New World” buku ini adalah kritik atas perdjodohan dan perkawinan terpimpin dari Hitler untuk menciptakan “Aries van het zuisverste ras” dan atas politik uniformering dari Stalin.

Sekali menerima prinsip melenjapkan perbedaan badani, kebiasaan dan adat-istiadat, mengapa djuga tidak sekalian menerima penghapusan perbedaan-perbedaan opini, ideologi, agama? Bukankah perbedaan – perbedaan dalam bidang ini mengandung potensi dan kemungkinan yang lebih besar bagi pertentangan, antagonisme, atau diskriminasi, sehingga menghambat proses pembinaan bangsa jang bulat dan homogen?

Ke 10 tokoh dan kawan-kawan tentulah tidak mengartikan: “homogen” sebagai ″uniform″, namun disangsikan apakah mereka telah menjadari sedalam¬-dalamnja konsekwensi dari prinsip pendirian mereka itu. Siapakah yang tidak mau mempertanggung djawabkan portee dari idee dan kata-kata sdr. Lauwchuantho, saja apakah saudara?

Dan sekali-sekali bukanlah bermaksud untuk menakut-nakuti orang melainkan sekedar untuk tjoba menjadari, menjakinken saudara dan kawan-kawan akan bahaja dari prinsip ″nivellering″ jang hanja berbeda dengan uniformering secara gradual sadja. Sdr. Lauwchuantho dan kawan-kawan jang bersama-sama kami berdiri di pihak jang lain dari totalitarisime, kiranja berhati-hati supaja djangan sampai mengandjurken sesuatu jang menudju ke suatu djurusan jang tidak dikehendaki, karena kurang teliti dan dalam memikirken masalah-masalah jang mempunjai lebih dari satu sudut itu.

Asimilasi
Sjukurlah apabila kita semua mengikuti dan menjetudjui bahwa asimilasi ada satu proses timbal-balik. Meskipun bagi sdr. Lauwchuantho kebenaran itu seperti lembu besarnja, masih kami kuatirkan apakah tidak hanja lembunja saja jang dilihatnja.

Asimilasi dari minoritet ke dalam “dominant group” tidak akan mungkin
terlaksana, apabila minoritet sadja jang merindukennja, sebaliknja djika tjintanja ditampik oleh “dominant group”. Dan apa bila kami tida segan-segan mengemukaken bahwa pada waktu ini ada sebagian dominant group jang menentang asimilasi minoritet Tionghoa, maka itoe karena fakta jang berbitjara.

Sampai hari ini WNI keturunan Tionghoa masih mengalami “restriction of employment opportunities, lack of access to facilities that are meant to serve the population in general, the presence of bias and antagonism in law enforcement officials and many other manifestation of prejudice” (Araoid Rose, ibid).

Apakah “diskriminasi dan exclusion” itu dapat dipandang sebagai tanda¬tanda penerimaan peminangan sdr. Lauwchuantho dan kawan-kawan? Kalau tidak ada diskriminasi berdasarkan perbedaan-perbedaan physik dan kebudajaan, maka dengan sendirinja tidak ada minoritet dan “dominant group” lagi?. Dan kalau tidak ada minoritet dan dominant group bukanlah masalahnja sudah selesai? Dan kalau begitu konklusi kami, bukankah benar diagnosa dan therapy dari saudara-saudara tida tepat adanja?

Kami tidak menentang asimilasi an sich. Kami hanja tjoba menerangkan bahwa asimilasi sebagai cara penjelesaian masalah minoritet sekarang ini adalah tidak tepat. Karna diskriminasi telah memburukkan interrelations antara golongan¬-golongan, dan interrelation jang buruk bukanlah tanah dan iklim jang tjotjok bagi tumbuh dan seminja asimilasi.

Bahwasanja asimilasi perseorangan dahulu, sekarang dan nanti terjadi “ondanks alles “, itu tidak dapat disangkal. Tetapi itu adalah “uitzonderingen die de psychologische en sociologische regel bevestigen”. Dalam hubungan ini baiklah diperingatkan bahwa biasanja “asimilasi biologis” tidak dimasukkan dalam arti
asimilasi (Cfr. W.F. 0-burn & M.F. Nimkoff’ A handbook of Sociolog gy
Assimilation is the process whereby individuals or groups once dissimilar become similar; that is, become identified in their interest and outlook and in which persons and group acquire the memories, sentiments and attitudes of other persons or group, and by sharing their experiences and history, are incorporated with them in a cultural life “, hal. 261).

Kembali kepada persoalan kita, maka kami dapat tegaskan bahwa masalah minoritet itu tidak disebabkan oleh “productie-verhoudingen”, djuga bukan oleh perbedaan-perbedaan badani dan/atau cultural. Persoalannja letak pada “human relations”, ialah interrelation antara “dominant group” dan minoritet.

Inter-relations itu telah diratjuni oleh “prejudice”, prasangka. “Prejudice” jang menurut Arnold Rose (ibid) “practically always involves discrimination which means mistreatment of people without their having done anything to merit such treatment”.

Dan sebagai “causes” dari prasangka itu Rose menjebut
1. keuntungan (material dan immaterial) pribadi bagi yang memprasangkakan,
2. Ignorance, onwetendheid tentang golongan jang diprasangkakan.
3. Racisme atau superiority-complex.

Maka masalah minoritet pada hakekatnja adalah masalah manusia sendiri “the problem man”, jaitu bagaimana manusia memandang dan memperlakukan sesamanja manusia.

Diagnosa kami: Djiwa manusia sakit. Bukan struktur masyarakat jang salah, bukan perbedaan-perbedaan physik atau kulturil yang salah melainkan manusialah sendiri jang salah.

Oleh karena itu sebagai therapy kami anjurkan:
1. Bukan “brain-washing″ melainkan ″heart-cleansing”
2. Bukan perobahan struktur masyarakat melainkan perobahan “inensheschotiwing jang materialistic dan homo-centric menjadi Christocentris.
3. Bukan penghapusan perbedaan-perbedaan physik atau cultural, melainkan penghapusan prejudice, egoisrne dan hypocrisi.
4. Supaja tida lagi mendjadi ″dominant group″ melaenken ″dienede elite″
5. Bukan retooling of man, tetapi rebirth of man in Jezus Christ, dan tjara² laen jang telah kami kemukaken lebih dahulu dalem ″Therepy II”

Djakarta, 17 mei 1960
Mr. Yap Thiam Hien

Sumber : Tjamboek Berdoeri


Actions

Information

2 responses

19 03 2009
Rafid

wah keren, omong2 itu semuanya diketik sendiri? Lucu banget ngebacanya😀

16 01 2010
ameru

Hen, tapi Tionghoa di indonesia berkuasa loh.. klo bisa dibilang malah jadi minoritas yang dominan, terlebih dalam hal ekonomi. Karena sesungguhnya ga ada pembedaan seperti di malaysia misalnya, malaysia punya proteksi yang berlebihan terhadap pribumi.

Kalo yang gw tulis di plurk gw itu adalah masalah yang gw rasakan sendiri… orang-orang j**a, mereka banyak yang tidak terima jika ada suku selain mereka yang masuk ke dalam lingkungan sosial mereka. Karena ini gw alami sendiri di lingkungan kerja gw yang mayoritas berisikan suku ini.

Dan bukannya gw yang rasis, karena yang membedakan justru mereka duluan. Dan herannya mereka ga bisa terima jika dikritik balik. Padahal bisa dibilang semua orang punya hak yang sama di tempat ini. Yah, klo hanya j**a sendiri, ga akan mungkin ada negara ini. Tapi mereka bertingkah seakan hanya mereka yang berhak jadi pimpinan dan tidak terima –bahkan cenderung menjelekkan — pimpinan yang bukan satu suku dengan mereka.

Yah, gw tau ini kasus sensitif, dan mohon maaf klo gw nyinggung kalian para orang j**a, tapi ini kenyataannya. Ga perlu merasa bangga deh akan darah biru atau apalah namanya. Di tempat lain gelar kalian yang panjang itu ga ngaruh kok. Dan jangan beraninya cuma jadi munafik, di depan muka gw kalian senyum, sok baik, ketawa2,,,, di belakang ngomongin jelek2, ngehina2, ngedumel2???? taukah kalian, tanpa suku2 lainnya indonesia ga akan ada dan jalan? karena sesungguhnya kalian terlalu lamban, ga punya inisiatif, dan suka sok “malu” dan “nahan diri” –apa itu, “alon2 asal kelakon” namanya??(padahal marah2 di belakang)..

(sori hen jadi marah2 di blog lo..)

sekian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: